Pages

Sunday, 16 April 2017

nota-nota berbau ketakutan.

Bismillahirrahmannirrahim.

Aku tahu, walau beberapa patah sahaja mungkin yang keluar, teruskan saja menulis kerana terlalu banyak huruf yang bersarang di kepala. Aku tidak gemar berkongsi atau bercerita, aku lebih suka diamkan. Tetapi, tangan tetap gatal menulis. Sampai bergaduh dengan aksara jiwa yang ingin minta dikeluarkan.

Memilih untuk menulis lagi, bila disaat memorinya semakin pudar perlahan-lahan. Baginya, tiadalah yang lebih menggembirakan selain melihat tulisannya menumbuh seperti di dalam jiwanya. Banyaklah, tulisan tentang pergi, hilang, bahagia dan luka.

Sebenarnya, terlalu banyak yang ingin dituliskan, namun sering dikalahkan oleh waktu dan perasaan. Atau, mungkin kerana karakter aku yang memang seorang pemerhati atau juga disebabkan suasana dalaman yang menjadikan aku lebih banyak sepi mendiamkan diri, lebih berfikir tentang kualiti kerja berbanding bisik-bisik kata yang banyak.

aku harap kini,
aku masih mahu kembali ke realiti, 

aku entah berapa kali melihat momen-momen lama, menoleh semula ke belakang, kategori manusia pencinta kenangan aku ini kali.

Kata-kata; bisa menghidupkan dan mematikan; bisa menyala sinar atau menyebar kelam; bisa membawa episod suka dan duka. Dan mungkinkah esok, kata-kata bisa memimpin 'si buta' menuju Tuhannya?
Biar parut rindu menjadi nadi kekuatan. 

Ujian tetap saja menjengah, hari-hari dihujani kenapa.

namun firmanNya sahaja tetap memujuk,

"Bahawa sesungguhnya tiap-tiap kesukaran disertai kemudahan." - (Al-Insyirah, 6)
Entah, terlalu lama menghirup udara di tempat lain mungkin. Membuatkan aku perlukan ruang dan waktu untuk mengadaptasi dengan suasana baru walaupun ini merupakan tempat kembali pulang. Tidak lelah fizikalnya, cuma mentalnya.

Tapi, Tuhan tetap meniupkan pada aku rasa keyakinan.

Penuh asam garam dan warna, dalaman.

Sungguh, betapa janggalnya bila kau mengambil keputusan berhenti menulis (merupakan kecintaan kau) dan memulakannya semula. Sangat janggal.

Sekarang, janggal.

Cuma, nanti, bila aku lama terperangkap di keadaan ini dan mula melupakan jiwa aku yang ini, yang semakin perlahan-lahan pudar,

seru ia di sebalik tulisan-tulisan ini.

Mungkin aku diam, mengumpul kekuatan yang hilang. Tidak mudah orang faham. Di celah kesibukan, aku tetap dikejar sunyi. Puas aku mencari titik punca, tidak jumpa dan tetap kosong.

"That broken heart and the pain are lessons and signs for us. They are warnings that something is wrong. And pain is a pointer to our attachments. That which makes us cry, that which causes us the most pain is where our false attachments lie. I was expecting this life to be perfect. But herein lay my fatal mistake. My mistake was not in having expectations. The problem was in *where* I was placing those expectations and that hope. My hope and expectations were in people, relationships, means. We need to put or full hope, trust, and dependancy on God, and God alone. And if we do that, we will learn what it means to finally find peace and stability of heart." - Yasmin Mogahed, Reclaim Your Heart.
Seperti di hiruk-pikuk kota, dengan bunyi hon kereta yang bingit mengganggu gegendang telinga, masih juga kita merasa sunyi, di dalam.

Mengaku saja, mungkin terlalu diperhatikan kepada dunia, ditumpahkan untuk dunia, kepada dunia. Lalu merasa terikat jiwa dengan dunia.

Semua ketakutan, sunyi, sepi, hilang dan kecewa itu, semuanya ternoktah pada titik yang sama; Tuhan.

Beberapa hari ini, rasa sunyi itu kerap datang dan mulai membunuh jiwa.

Apa yang aku mahu sebenarnya? Selain jawapannya cuma pada Tuhan.

Moga hati ini menemui jawapan, dan tidak dikecam sunyi dan ketakutan-ketakutan lagi.



Sunday, 9 April 2017

I've always keep it inside.

I’ve never been able to tell people how I feel; I’ve always kept it inside. Most often it’s the intensely negative and destructive emotions that I bottle up… most often to the point where they begin to quietly destroy me from the inside out. Everyone seems obsessed with happiness and positivity. We live in a society where everyone has smiling photos and happy lives and I don’t know how to relate because I don’t feel like smiling… I don’t have a particularly happy life. 


So I fake it. I pretend. I make my profile photo’s look like everyone else’s, I smile and talk about the weather like everyone else… but what I’m presenting isn’t real a lot of the time. 

Sometimes I wonder – what if nobody’s really that happy? What if everyone else is looking at everyone else and pretending to be happy because it’s what they think is ‘normal’. 

What if we’re all liars pretending to be something we’re not, when really, feeling sad or discontent is normal and if one person just stood up and admitted it we’d all start to realize what a farce it really is.. 

But then I think… perhaps it is just me, and telling people would just bring them down. Perhaps it’s better to keep the negativity inside so it doesn’t hurt other people and make them sad. Because that’s the last thing in the world I’d ever want… to be the cause of someone else feeling what I feel every day…


Saturday, 8 April 2017

Itu satu; perihalnya.


Kita waktu ini saling membahagiakan perasaan masing-masing. Bahkan ada yang bilang, kita dua orang yang sepadan, serasi bersama, tidak mahu dipisahkan.

Kita saling berbalas mesra. Bahkan aku tidak bosan menanti topik bicara kita yang selalu berhasil menghempas lara. Aku suka sekali, hatta walau diammu.

Kita saling tergenggam rindu. Saling resah menanti khabar-menuntut waktu untuk membawa sebuah temu.

Itu tersatu, perihal cinta.

Friday, 7 April 2017

Singkat saja.

Tulisan pertama di 2017.



Cukup lama aku terhenti menulis.
Seperti ada sebahagian dariku hilang.
Sedangkan di sini aku merasa lebih dari sekadar cukup.

Maka, sebentar sahaja aku ingin bercerita di sini,
singkat saja.

Indah, seluruh indah.

Aku mencari sesuatu.
Namun, mencari bukan bererti menemukan,
dicari belum tentu dapat ditemukan.

maka, berbiasalah aku dengan keadaan.

Lagi-lagi, aku kadang berburuk sangka, dan aku patahkan buruk sangka ini.
Hari-hariku, ku biarkan dengan segudang pertanyaan.


Selalu aku memerhati manusia yang berlalu lalang untuk pergi dan kembali.
Lalu ada sahaja tulisan aku ingin tuliskan, puitis tetapi hilang.
Itu aku kecewakan sendiri, mana pergi aku yang merungkai kata?

Mudah lupanya, mudah hilangnya..
Seolah berpisah sahaja, walau tidak ingin berpisah.

Aku pernah mencuba mendiamkan diri, cari kembali kecintaan ini.
Menikmati keadaan dan memerhati.
Hasilnya, mengelamun.

Aku pernah cuba ke tepi pantai hampir senja hari.
Tempat puitis bagai mereka yang ingin merungkai kata manis.
Tempat berpisah bagi mereka yang ingin berpisah.
Tempat penantian yang dicinta.
Hasilnya, aku hanya mendengarkan ombaknya.
Hanya menikmati alam.
Tulisannya? Tiada. Kaku.

Kembali aku, mencari cara mengembalikan kecintaan kepada menulis lagi.



Thursday, 17 November 2016

Kadang kita perlu menjadi tuli.

Hidup adakalanya adalah tentang bagaimana kita mahu tahan diri daripada putus asa. Juga, tentang bagaimana untuk tidak langsung putus asa. Perasaan jatuh tidak mahu bangun itu kadang tidak boleh lari daripada kita.

Tapi itulah.. menjadi Muslim dan Mukmin ini, Allah mengajarkan kita menjadi lebih dari yang diri kita sendiri tahu. Di saat kita terdesak, barulah kita tahu tahp kita yang lebih.

Setiap orang adalah tuan kepada dirinya sendiri. Orang lain mampu menghulur tangan, membantu. Yang mahu menentukan untuk menyambut huluran tangan itu adalah kita sendiri. Kajilah kelemahan diri dan binalah kekuatan yang akan melindungi kelemahan itu.

Jadilah siapa yang kita mahu jadi, yang penting jangan jadi apa yang dimurkai oleh Allah.

Monday, 24 October 2016

Bahuku tidak segagah dahulu.

Alangkah kalau bisa saja begitu. Kau datang, aku hulur bahu. Marilah tumpang bersandar. Aku tahu kau lelah jalani hidup. Pinjamkan saja bahuku ini, bukanlah berat kepala mu untuk pundakku tanggung. Tidaklah aku berkira-kira mahu tepis atau jatuhkan kepalamu, jangan risau. Aku masih lagi mampu menjadi tugu untuk kau lepaskan lelah tanpa ragu. Alangkah kalau bisa saja begitu.

Tapi kini aku bukan seperti itu. Bahuku sudah tidak kelihatan. Aku sendiri kenanaran mahu menumpang rehat di celah mana. Bukan aku tidak lagi sudi pinjamkan bahu, tapi aku sendiri tidak mampu berdiri dengan aman, bagaimana bisa aku jadi tempat sandaran? Alangkah kalau bisa saja begitu.

Tapi hari ni bukan lagi seperti semalam. Kau datang, tidak aku sambut, halau juga tidak. Tapi kau tidak juga mahu fahami aku. Kau masih tetap datang dengan beban yang berat di mata dan sarat di jiwa. Bebanmu terlalu banyak sehingga kau tidak lagi nampak bahuku sebenarnya sudah sedia penuh dan menunggu rebah. Padahal kau cukup tahu bahuku pernah patah. Bahuku tidak segagah dulu. Kau tahu itu. Alangkah kalau bisa saja begitu.

Aku dengan bahuku yang belum sembuh dan kau datang lagi minta dipinjamkan sedikit ruang di celah itu. Tidak mengapa, datang sajalah.

Aku tahan saja, sampai nanti aku jatuh tidak lagi bangun.

Untuk kau.

Sunday, 16 October 2016

Maafkan aku untuk waktu itu, Tuhanku.

Tergenggam sakit, luka-luka di dalam. Intaian keangkuhan sekejap ada sekejap tiada. Noda di dalam pergaulan sesama manusia. Jiwanya memberontak mahukan kepuasan yang infiniti entah bila akhirnya. Semuanya tersimpan diam-diam dengan jutaan pura-pura pada luaran. Itu semuanya, mungkin kerana sempat melupakanMu waktu itu.

Maafkan untuk waktu itu, Tuhan.

Semua hal yang tidak terjangka sekalipun, Kau tidak pernah lepas mengendalikan. PerancanganMu, membawa seorang yang lemah selemah-lemah jiwanya menjadi seorang yang mahu mengenalMu,

Allah, jalan menujuMu.

Kini, yang mampu dilakukan hanyalah terus berusaha dan bangkit serta tetap berserah diri padaMu. Terima kasih atas teguranMu. Terima kasih kerana masih Kau titipkan mereka yang bersama di jalan menujuMu. Mereka yang masih percaya, mereka yang masih bertahan serta menguatkan dalam keadaan ini.

Ajari aku bersyukur Tuhanku..

Dalam keadaan apapun,

ingatkan aku lagi, 
bahawa dalam ketidakmampuanku,
ada Kau yang maha memampukan.


Hari ini aku begitu rindu. 
dan esok akan kuceritakan pada mereka yang belum tahu,
bahawa Kau-lah tempat ternyaman.